Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang memastikan empat korban penembakan yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di wilayah Jayawijaya merupakan warga sipil, bukan anggota intelijen maupun prajurit TNI. Kepastian tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi yang beredar di media sosial mengenai identitas para korban.
Kejelasan informasi dinilai penting agar masyarakat tidak menerima kabar yang keliru di tengah upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Tanah Papua.
Meluruskan Informasi dan Menjamin Perlindungan Warga
Keempat korban terdiri atas tiga aparatur sipil negara (ASN) dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya dan Aris Sanda, seorang pengemudi lajuran. Pangdam menegaskan bahwa seluruh korban tidak memiliki keterkaitan sebagai anggota TNI atau intelijen TNI. Berdasarkan informasi yang disadur dari papua.antaranews.com, pernyataan itu disampaikan Mayjen Febriel di Jayapura sebagai klarifikasi resmi atas kabar yang berkembang di ruang publik.
Penegasan mengenai status korban juga memperlihatkan bahwa insiden tersebut berdampak langsung terhadap masyarakat yang menjalankan tugas pelayanan pemerintahan dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Para ASN yang menjadi korban merupakan bagian dari perangkat daerah yang mendukung pembangunan sektor pertanian di Jayawijaya, sementara pengemudi lajuran menjalankan pekerjaan yang berkaitan dengan mobilitas masyarakat.
Karena itu, penanganan keamanan menjadi salah satu prasyarat penting agar pelayanan publik, distribusi kebutuhan, serta kegiatan ekonomi warga dapat berlangsung secara aman.
Atas insiden tersebut, Kodam XVII Cenderawasih menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan masyarakat yang terdampak. Mayjen Febriel menyatakan TNI-Polri akan terus mengejar para pelaku sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah penegakan hukum tersebut diarahkan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus mencegah terulangnya kekerasan terhadap warga sipil di wilayah yang sedang menjalankan berbagai agenda pembangunan.
Koordinasi Pemerintah dan Aparat Diperkuat
Pengamanan di Jayawijaya dilakukan melalui koordinasi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robby Suryadi telah berada di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta unsur masyarakat setempat. Koordinasi ini menjadi bagian dari upaya menyusun langkah yang sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan perlindungan warga.
Pangdam menyatakan berbagai kasus penembakan terhadap warga sipil menjadi perhatian serius TNI. Untuk mengantisipasi aksi serupa, TNI menyiapkan personel dan persenjataan dengan tetap memperhatikan prosedur operasional yang berlaku. Rincian teknis mengenai langkah tersebut tidak disampaikan kepada publik, namun komitmen utama yang ditekankan adalah menciptakan situasi yang aman di Tanah Papua.
Di sisi lain, Polri berkomitmen mengurangi kekuatan KKB melalui langkah penegakan hukum dan pengamanan yang terukur. Pangdam menegaskan bahwa seluruh tindakan TNI-Polri akan dilakukan berdasarkan standar operasional prosedur (SOP). Ia juga meminta dukungan masyarakat agar upaya menjaga keamanan dapat berjalan efektif, termasuk melalui kerja sama, penyampaian informasi yang benar, dan penguatan komunikasi antara warga, pemerintah daerah, serta aparat.
Stabilitas keamanan memiliki hubungan langsung dengan keberlanjutan pembangunan di Jayawijaya. Rasa aman dibutuhkan agar ASN dapat menjalankan pelayanan, petugas pertanian mendampingi masyarakat, pelaku usaha menjaga distribusi barang, dan warga beraktivitas tanpa ancaman kekerasan. Dengan koordinasi lintas pihak serta informasi yang akurat, penanganan insiden diharapkan tidak hanya berfokus pada pengejaran pelaku, tetapi juga memperkuat perlindungan masyarakat dan kesinambungan pelayanan publik di wilayah pegunungan Papua.


