Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menekankan pentingnya kolaborasi antara TNI, kementerian dan lembaga, serta pemerintah daerah dalam menangani konflik di Papua. Menurut dia, penyelesaian persoalan keamanan di wilayah tersebut tidak dapat hanya mengandalkan satu institusi karena Papua memiliki wilayah yang luas dan kondisi geografis yang menantang. Pendekatan lintas sektor dinilai penting untuk mendukung operasi pengamanan sekaligus memastikan masyarakat tetap memperoleh perlindungan dan pelayanan pemerintahan.
Kolaborasi Menjadi Kunci Penanganan Papua
Agus menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu. Ia menilai keterlibatan pemerintah daerah dan kementerian terkait dapat memperkuat langkah-langkah yang telah dilakukan TNI di berbagai wilayah Papua. Sebagaimana disadur dari ANTARA News Sumbar, kolaborasi tersebut diperlukan karena karakter wilayah Papua yang didominasi kawasan pegunungan membuat mobilitas, pemantauan, serta penanganan kejadian keamanan membutuhkan dukungan banyak pihak.
Kerja sama lintas lembaga juga dapat memperjelas pembagian peran dalam menghadapi persoalan di lapangan. TNI menjalankan fungsi pertahanan dan dukungan pengamanan, sementara pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga dapat memastikan koordinasi pemerintahan, pelayanan publik, serta penanganan kebutuhan masyarakat berjalan secara berkelanjutan. Dengan koordinasi yang lebih kuat, respons terhadap gangguan keamanan diharapkan tidak berhenti pada tindakan penindakan, tetapi turut menjaga keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi warga.
Insiden di Kawasan Danau Habema
Penekanan mengenai kolaborasi itu disampaikan setelah terjadinya kekerasan terhadap seorang sopir travel asal Toraja, Aris Sanda alias Bapak Tasya. Aris ditemukan meninggal dunia bersama kendaraannya yang terbakar di kawasan Danau Habema, Papua Pegunungan. Komando Operasi Habema TNI menyebut kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka atau OPM Kodap III Ndugama sebagai pihak yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf. Wirya Arthadiguna menjelaskan bahwa Aris saat itu membawa sejumlah penumpang menggunakan mobil bak terbuka. Dalam perjalanan, kendaraan tersebut dicegat kelompok bersenjata yang kemudian melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi dan para penumpang. Setelah pemeriksaan, penumpang diminta kembali ke Wamena, sedangkan Aris ditahan dan dibawa berjalan menuju arah Danau Habema.
Pencarian dan Penguatan Pengamanan
Setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut, personel Koops TNI Habema melakukan pencarian dan penyisiran di sekitar lokasi pada Rabu, 16 September. Dalam kegiatan itu, tim menemukan satu unit kendaraan dalam kondisi terbakar beserta jenazah Aris. Penemuan tersebut menjadi dasar bagi aparat untuk melanjutkan penanganan keamanan dan proses hukum terhadap pihak yang diduga terlibat.
Koops TNI Habema menyatakan akan mengejar kelompok bersenjata yang diduga bertanggung jawab serta memperkuat pengamanan di wilayah tersebut. Upaya itu ditujukan untuk mencegah jatuhnya korban berikutnya dan memberikan rasa aman kepada masyarakat yang beraktivitas maupun melakukan perjalanan di kawasan Papua Pegunungan. Berdasarkan informasi yang disadur dari ANTARA News Sumbar, langkah pengejaran juga akan disertai dukungan terhadap proses penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.
Kasus di Danau Habema menunjukkan bahwa pengelolaan keamanan di Papua memerlukan koordinasi yang konsisten antara aparat, pemerintah daerah, dan lembaga terkait. Dukungan tersebut penting agar pengamanan dapat dilakukan secara terukur, perlindungan terhadap warga diperkuat, dan pelayanan pemerintahan tetap berjalan di wilayah yang memiliki tantangan geografis maupun keamanan.
Kolaborasi yang efektif menjadi bagian penting dalam menciptakan kondisi yang lebih aman bagi masyarakat serta menopang keberlanjutan pembangunan daerah.


