Panglima Komando Operasi TNI Habema Brigadir Jenderal TNI Riyanto memerintahkan evakuasi udara terhadap Sinta Bilolo, istri almarhum Aris Sanda yang menjadi korban pembunuhan kelompok bersenjata OPM, dari Distrik Mbua menuju Wamena, Papua. Bantuan tersebut diberikan karena jalur transportasi darat Mbua–Wamena belum dapat digunakan secara optimal.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan Sinta Bilolo dan dua pendampingnya dapat menempuh perjalanan dengan aman di tengah situasi duka dan keterbatasan akses.
Evakuasi Berlangsung melalui Dua Tahap Penerbangan
Sebagaimana disadur dari ANTARA News Manado, proses evakuasi dimulai dari Mbua menggunakan helikopter Bell dan Fennec menuju Kenyam. Sinta Bilolo didampingi Ibu Haryati dan Ibu Murni dalam perjalanan tersebut. Setelah tiba di Kenyam, ketiganya melanjutkan penerbangan menuju Wamena menggunakan pesawat Caravan.
Seluruh rangkaian perjalanan dilaporkan berlangsung aman dan lancar. Penggunaan jalur udara menjadi pilihan karena kondisi transportasi darat di jalur Mbua–Wamena belum memungkinkan untuk mendukung perjalanan keluarga korban. Skema tersebut menunjukkan adanya penyesuaian operasi berdasarkan kondisi geografis dan kebutuhan keselamatan masyarakat di wilayah pedalaman Papua.
Keselamatan Keluarga Korban Menjadi Prioritas
Riyanto menjelaskan bahwa bantuan evakuasi diberikan atas pertimbangan kemanusiaan dan keselamatan. Sinta Bilolo berada dalam suasana berkabung sehingga membutuhkan perjalanan yang aman, terkoordinasi, dan tidak menambah beban dalam menghadapi masa sulit. Karena itu, jajaran TNI diarahkan untuk menyediakan dukungan transportasi hingga rombongan tersebut dapat mencapai Wamena.
Keputusan ini juga memperlihatkan pentingnya layanan tanggap dalam kondisi ketika masyarakat menghadapi hambatan mobilitas. Keterbatasan akses darat, khususnya di wilayah dengan tantangan geografis, dapat memengaruhi kemampuan warga untuk memperoleh perjalanan yang aman dan cepat. Kehadiran dukungan udara membantu memastikan kebutuhan mendesak tetap dapat ditangani tanpa menunggu pulihnya jalur transportasi darat.
Kehadiran Negara di Tengah Tantangan Akses
Pangkoops TNI Habema menegaskan bahwa kondisi geografis maupun keterbatasan infrastruktur transportasi tidak boleh menjadi penghalang ketika masyarakat membutuhkan pertolongan. Menurut dia, kehadiran negara perlu dirasakan pada saat warga berada dalam situasi paling rentan, termasuk melalui bantuan perjalanan dan jaminan keselamatan. Prinsip tersebut menempatkan perlindungan masyarakat sebagai bagian penting dari pelaksanaan tugas di wilayah operasi.
Dari perspektif pembangunan, peristiwa ini menegaskan hubungan erat antara keamanan, konektivitas, dan kesejahteraan masyarakat Papua. Ketika akses darat mengalami kendala, dukungan transportasi udara dapat menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan mobilitas yang mendesak. Namun, pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya penguatan konektivitas antardistrik agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan perjalanan yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Evakuasi Sinta Bilolo bersama dua pendampingnya hingga tiba di Wamena menjadi contoh koordinasi lapangan yang mengutamakan keselamatan dan kemanusiaan. Pelaksanaan perjalanan melalui rute Mbua–Kenyam–Wamena dilakukan dengan menyesuaikan sarana angkutan yang tersedia di setiap tahap. Dukungan semacam ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap layanan negara, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah dengan tantangan akses dan kondisi geografis yang kompleks.
