Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan penghormatan terakhir kepada Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Prof. Dr.
Oscar Oswald yang wafat di tengah kunjungan kerja kementerian di Papua. Ia melayat ke rumah duka di Jayapura pada Jumat, 18 September 2026, untuk mendoakan almarhum, menemui keluarga, serta menyampaikan belasungkawa atas nama Kementerian Transmigrasi. Dalam kesempatan itu, Iftitah menegaskan bahwa keterlibatan akademisi lokal menjadi unsur penting dalam memperkuat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua.
Kehadiran Menteri Transmigrasi di rumah duka tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada seorang pimpinan perguruan tinggi, tetapi juga mencerminkan hubungan strategis antara pemerintah dan Universitas Cenderawasih. Menurut Iftitah, Uncen memiliki posisi penting dalam menyiapkan sumber daya manusia, menghasilkan kajian berbasis kebutuhan daerah, serta mendukung perumusan kebijakan pembangunan yang sesuai dengan karakter Papua.
Sebagaimana disadur dari MetroTVNews.com, kunjungan tersebut dilakukan setelah menteri menerima kabar wafatnya Rektor Uncen saat sedang menjalankan agenda kerja di wilayah tersebut.
Universitas Lokal sebagai Mitra Pembangunan
Iftitah menyebut kepergian Prof. Oscar Oswald sebagai kehilangan mendalam bagi dunia pendidikan sekaligus bagi Kementerian Transmigrasi. Di mata kementerian, Uncen bukan sekadar lembaga pendidikan tinggi, melainkan mitra strategis dalam membangun masa depan Papua. Perguruan tinggi lokal dinilai memiliki pemahaman langsung terhadap kondisi sosial, ekonomi, budaya, geografis, dan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Papua.
Posisi tersebut membuat universitas lokal dapat berkontribusi lebih jauh daripada sekadar menyelenggarakan kegiatan akademik. Kampus dapat menjadi pusat riset, inovasi, pendampingan masyarakat, dan pengembangan kebijakan berbasis data. Kolaborasi dengan pemerintah juga berpeluang memperkuat perencanaan program transmigrasi, peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, serta pengelolaan potensi daerah secara lebih terukur dan berkelanjutan.
Pendidikan, Teknologi, dan Kemandirian Masyarakat
Menteri menekankan bahwa pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan untuk mempercepat kemandirian Papua. Pendidikan dipandang sebagai instrumen utama untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya, mengembangkan usaha, memperluas kesempatan kerja, dan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi. Karena itu, penguatan universitas lokal menjadi bagian penting dari agenda pembangunan jangka panjang, bukan hanya untuk mencetak lulusan, tetapi juga untuk menghasilkan solusi yang relevan bagi persoalan di lapangan.
Sinergi antara pemerintah pusat dan perguruan tinggi di Papua dapat diarahkan pada berbagai bidang prioritas, seperti pendidikan vokasi, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, konektivitas, tata kelola sumber daya alam, serta penguatan usaha mikro dan koperasi. Keterlibatan akademisi lokal juga dapat memastikan agar kebijakan pembangunan disusun dengan mempertimbangkan pengetahuan, pengalaman, serta aspirasi masyarakat setempat.
Dengan demikian, pembangunan tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur, tetapi turut membangun kapasitas manusia dan kelembagaan daerah.
Ajakan Mentrans kepada akademisi lokal menjadi penegasan bahwa pembangunan Papua membutuhkan kemitraan jangka panjang dan pembagian peran yang jelas. Pemerintah menyediakan kebijakan, dukungan program, dan penguatan konektivitas, sementara perguruan tinggi berkontribusi melalui riset, pendidikan, inovasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi semacam ini diharapkan mampu memperluas manfaat pembangunan, meningkatkan kemandirian daerah, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat Papua secara berkelanjutan.

